Akuntansi utk UKM (Juli 2004)
Oktober 21, 2008
Dalam menjalankan aktivitas usaha seringkali orang merasa kesulitan dalam melakukan pencatatan terhadap apa yang terjadi di perusahaan. Kesulitan itu menyangkut aktivitas dan penilaian atas hasil yang dicapai oleh setiap usaha. Apalagi kalau harus dilakukan pengukuran dan penilaian atas aktivitas yang terjadi dalam kegiatan usaha. Pencatatan dilakukan hanya dengan melihat berapa uang yang masuk diselisihkan dengan uang yang keluar, tanpa melihat pengeluaran uang itu untuk atau dari alokasi kegiatan usaha ataupun non usahaSeringkali dalam skala usaha kecil menengah ha.sil usaha dikatakan bagus jika pendapatan sekarang lebih tinggi dibanding dengan pendapatan sebelumnya. Padahal indikator dari keberhasilan tidak hanya diukur dari pendapatan saja. Perlu pengukuran atas transaksi / kegiatan yang terjadi, perlu pengelompokan serta perlu pengihtisaran transaksi-transaksi tersebut. Dengan demikian setiap aktivitas yang berhubungan dengan usaha perusahaan dapat dicatat dan dilaporkan dengan benar.
Dalam skala usaha kecil dan menengah masih banyak yang melakukan aktivitas usaha yang tidak dipisahkan dengan aktivitas sehari-hari (rumahan) misalkan biaya listrik, air, dan biaya yang tidak berkaiatan langsung dengan proses produksi, tetapi ikut serta dalam mendukung pelaksanaan proses produksi tersebut. Biaya-biaya tersebut sering kali tidak dipisahkan mana yang merupakan pengeluaran usaha mana yang merupakan pengeluaran rumah tangga. Hal ini sering terjadi pada industri rumah tangga.
Disamping hal di atas seringkali faktor tenaga kerja tidak ikut diperhitungkan dalam menetapkan harga dari sebuah hasil produksi. Asala ada lebihnya dari biaya produksi langsung para pengusaha kecil sudah merasa senang. Padahal kalau dihitung kembali mungkin saja harga jual yang ditetapkan tersebut tidak bisa menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membuat suatu produk.
Kalau hal itu dibiarkan oleh para pengusaha terutama pengusaha kecil dan menengah tidak menutup kemungkinan dalam jangka panjang perusahaan tidak bisa mengembangkan usahanya akibat dari tidak dilakukan pengukuran atau penilaian dari setiap aktivitas usaha. Agar bisa melakukan pengakuan, penilaian, pengukuran, setiap pengusaha perlu menciptakan sebuah sistem pencatatan yang baik dari setiap aktivitas usaha tersebut. Dengan sistem pencatatan yang baik nantinya akan dihasilkan pelaporan hasil usaha dan kondisi perusahaan yang benar. Hal ini bisa dilakukan jika unit usaha melakukan sistem akuntansi yang disesuaikan dengan jenis usahanya. Jika perusahaan belum mampu untuk menciptakan sistem akuntansi yang baik, minimal unit usaha (kecil dan menengah) melakukan sistem pembukuan yang baik.
II. Pembukuan dan Akuntansi
Ada sedikit kekaburan antara pembukuan dengan akuntansi. Hal ini sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa keduanya saling berhubungan dan tidak ada pemisahan yang tegas dan diterima secara umum. Pada umumnya pembukuan adalah pencatatan data unit usaha dengan suatu cara tertentu. Seorang pemegang buku mungkin bertanggungjawab atas semua pencatatan dalam perusahaan atau hanya sebagian kecil saja dari kegiatan pencatatan dalam perusahaan tersebut (misalnya mencatat keluar masuknya barang dalam kartu stok). Sebagian besar pekerjaan yang dilakukan oleh pemegang buku bersifat teknis pelaksanaan.
Akuntansi lebih menekankan kegiatan terhadap perancangan sistem pencatatan, penyusunan laporan berdasarkan data yang telah dicatat dan penafsiran atas laporan-laporan tersebut. Dengan demikian pembukuan merupakan salah satu bagian dari aktivitas akuntansi padahal setiap aktivitas dalam perusahaan harus bisa dicatat dan dilaporkan dalam suatu sistem yang teritegrasi (terpadu) antara kegiatan satu dengan kegiatan lainnya.
Akuntansi menurut Soemarso (1990) diartikan sebagai berikut:
“Akuntansi merupakan proses pencatatan, pengidentifikasian, mengukur dan melaporakan informasi ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut”
Setiap pengusaha dalam mengambil suatu keputusan pasti memerlukan sebua informasi yang benar sebagai dasar pengambilan keputusannya, Informasi akuntansi inilah yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan terutama dalam aspek keuangan.
Dari pengertian akuntansi di atas dapat diketahui bahwa:
1. Akuntansi merupakan pproses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran, dan pelaporan informasi ekonomi. (bagian ini menjelaskan tentang kegiatan akuntansi).
2. Informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan mengenai usaha yang bersangkutan(merupakan segi kegunaan akuntansi).
Informasi yang dimaksudkan di atas adalam informasi keuangan atau lebih jelasnya adalah laporan keuangan. Laporan keuangan suatu perusahaan menurut Ikatan akuntan Indonesia (2000) dalam Standar Akuntansi Keuangan adalah sebagai berikut:
1. Neraca
2. Laporan Rugi laba
3. Laporan Kas
4. Catatan Atas Laporan Keuangan
5. Laporan perubahan Modal (Kekayaan Bersih)
Laporan keuangan tersebut sebenarnya merupakan hasil dari proses akuntansi yang menggunakan sistem tata buku berpasangan (double entry system) yang dasarnya dari sebuah persamaan akuntansi
|
HARTA |
|
+ |
|
MODAL |
|
= |
|
HUTANG/ KEWAJIBAN |
![]() |
![]() |
![]() |
|||||
yang menyebutkan bahwa:
(Niswonger, alih bahasa Ruswinarto, 1992)
III. Kegiatan Usaha dan Akuntansi pada Usaha Kecil dan Menengah
Kegiatan usaha meliputi suatu arus perputaran dana. Dana diperoleh dari pemilik dan pinjaman (kreditur), digunakan untuk melakukan usaha yang akhirnya diterima dalam bentuk dana lagi. Kemudian dana ini diputarkan kembali untuk melakukan usaha dan sebagian dikembalikan kepada pemilik dan kreditur (pemberi pinjaman).
Semua kegiatan-kegiatan tersebut di atas, akan tercermin dalam transaksi dan kejadian-kejadian yang perlu dicatat serta dilaporkan. Akuntansi mempunyai peran penting dalam proses pencatatan dan pelaporan tersebut. Untuk menggambarkan kegiatan usaha serta catatan yang bisa dibuat bisa dilihat dar gambar berikut:
Gambar 1: Siklus Kegiatan Usaha
Sumber: Soemarso (1990)
|
Pemilik |
|
Kreditur |
|
Perusahaan memperoleh uang tunai dari pemilik dan kreditur |
|
Perusahaan membagikan laba kepada pemilik &mengembalikan pinjaman kepada kreditur |
|
Uang Tunai |
|
Perusahaan mengubah uang tunai menjadi aktiva produksi (harta yang digunakan dalam membuat produk barang/jasa) |
|
Perusahaan menjual barang/jasa kepada langganan. Pada akhirnya akan diterima uang tunai |
|
Aktiva produksi: Pabrik, peralatan, perlengkapan dan lain-lain. |
|
Barang
Jasa |
|
Perusahaan menghasilkan barang dan jasa dengan menggunakan: bahan baku, aktiva produksi, tenaga kerja, dan lain-lain. |
![]() |
Contoh Kegiatan Usaha dan Pencatatannya secara sederhana:
Kegiatan 1:
Hidayat mendirikan perusahaaan dan untuk itu ia menyetorkan uang tunai sebesar Rp. 1.000.000 sebagai modal awal.
Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penerimaan dan pengeluaran uang harus dicatat di buku kas. Penerimaan yang berasal dari kegiatan 1 dapat dicatat sebagai berikut:
Kas
+ 1.000.000 (Kegiatan 1)
Sisi lain dari kegiatan 1 bagi perusahaan adalah bahwa uang sebesar Rp. 1.000.000 tadi berasal dari Hidayat sebagai pemodalnya. Kejadian ini dicatat sbb.:
Modal Hidayat
+ 1.000.000 (Kegiatan 1)
Uang tunai merupakan kekayaan perusahaan atau disebut dengan aktiva. Aktiva merupakan sumberdaya untuk melakukan usaha. Dalam contoh ini kekayaan berasal dari penyetoran modal oleh Hidayat. Antara kekayaan dengan sumber pembelanjaannya harus sama yang dapat disajikan sebagai berikut
Kas = Modal Hidayat
1.000.000 = 1.000.000
Dalam contoh di atas posisi keuangan perusahaan menunjukkan bahwa:
1. Perusahaan memiliki kekayaan berupa uang tunai sebesar Rp. 1.000.000.
2. Sumber pembelanjaan dari kekayaan tersebut berasal darisetoran modal pemilik sebesar Rp. 1.000.000.
Kegiatan 2
Perusahaan memperoleh kredit dari bank sebesar Rp. 2.000.000.
Kredit yang diterima dari bank mengakibatkan perusahaan menerima uang tunai sejumlah Rp. 2.000.000. Hal ini dapat dicatat:
Kas
+ 1.000.000
+ 2.000.000 (Kegiatan 2)
3.000.000
Di sisi lain, sumber pembelanjaan dari kegiatan 2 yaitu pinjaman dari bank dicatat sbb.:
Hutang Bank
+ 2.000.000 (Kegiatan 2)
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan, setelah kegiatan ini dapat disajikan:
Kas = Hutang Bank + Modal Hidayat
3.000.000 = 2.000.000 + 1.000.000
Kegiatan 3
Perusahaan membeli mesin dengan harga Rp. 2.500.000
Kegiatan 3 ini merupakan kegiatan perusahaan dalam mengubah uang tunai menjadi aktiva produksi dalam hal ini adalah mesin. Hal ini dapat dicatat sbb.:
Kas
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000 (Kegiatan 3)
500.000
Akibat dari kegiatan 3 adalah perusahaan mempunyai mesin yang nilainya Rp. 2.500.000. hal ini dicatata;
Mesin
+ 2.500.000 (Kegiatan 3)
Posisi keuangan perusahaan dapat disajikan sebagai berikut:
Kas + Mesin = Hutang Bank + Modal Hidayat
500.000 + 2.500.000 = 2.000.000 + 1.000.000
Kegiatan 4
Perusahaan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 400.000.
Uang tunai dari hasil melakukan usdaha sebesar Rp. 400.000 akan dicatat sbb.:
Kas
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000
+ 400.000 (Kegiatan 4)
900.000
Pendapatan sebesar Rp. 400.000 merupakan penambahan terhadap kekayaan perusahaan. Kegiatan penambahan kekayaan yang berasal dari dari kegiatan uaha akan menambah modalpemilik. Hal ini dicatat:
Modal Hidayat
+ 1.000.000
+ 400.000 (Kegiatan 4)
1.400.000
Setelah kegiatan ini posisi kekayaan perusahaan sbb.:
Kas + Mesin = Hutang Bank + Modal Hidayat
900.000 + 2.500.000 = 2.000.000 + 1.400.000
Kegiatan 5
Perusahaan membayar bensin, olie dan lain-lain sebesar Rp. 100.000
Pengeluaran uang untuk pembayaran macam-macam biaya dicatat sbb.;
Kas
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000
+ 400.000
900.000
- 100.000 (Kegiatan 5)
800.000
Pengeluaran Rp. 100.000 mengakibatkan pengurangan kekayaan, sedangkan kekayaan perusahaan dimiliki oleh penyedia modal, sehingga hal ini bisa berakibat mengurangi modal pemilik:
Modal Hidayat
+ 1.000.000
+ 400.000
1.400.000
- 100.000 (Kegiatan 5)
1.300.000
Posisi keuangan perusahaan dapat dicatatat sbb:
Kas + Mesin = Hutang Bank + Modal Hidayat
800.000 + 2.500.000 = 2.000.000 + 1.300.000
Kegiatan 6
Perusahaan mencicil pengembalian kredit sebesar Rp. 150.000
Kegiatan ini mengakibatkan pengeluaran uang sebesar Rp. 150.000. Hal ini harus dicatat:
Kas
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000
+ 400.000
900.000
- 100.000
800.000
- 150.000 (Kegiatan 6)
650.000
Cicilan yang dilakukan perusahaan mengakibatkan berkurangnya hutang kepada bank. Hal ini dicatat:
Hutang Bank
+ 2.000.000
- 150.000 (Kegiatan 6)
1.850.000
Posisi keuangan perusahaan setelah kejadian ini adalah:
Kas + Mesin = Hutang Bank + Modal Hidayat
650.000 + 2.500.000 = 1.850.000 + 1.300.000
Kegiatan 7
Perusahaan membagikan laba kepada pemilik sebesar Rp. 100.000
Pembagian laba kepada pemilik merupakan pengembalian modal yang ditanam. Dengan demikian modal akan berkurang. Hal ini dicatat:
Modal Hidayat
+ 1.000.000
+ 400.000
1.400.000
- 100.000
1.300.000
- 100.000 (Kegiatan 7)
1.200.000
Uang tunai akan keluar karena pembagian laba, hal ini dicatat:
Kas
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000
+ 400.000
900.000
- 100.000
800.000
- 150.000
650.000
- 100.000 (Kegiatan 7)
550.000
Posisi kekayaan perusahaan saat ini dapat disajikan sbb:
Kas + Mesin = Hutang Bank + Modal Hidayat
550.000 + 2.500.000 = 1.850.000 + 1.200.000
Pada saat ini posisi keuangan perusahaan adalah sebagai berikut:
- Kekayaan yang dimiliki berjumlah Rp. 3.050.000 terdiri dari uang tunai Rp. 550.000 dan mesin Rp. 2.500.000.
- Sumber pembelanjaan berasala dari hutang bank sebesar Rp. 1.850.000 dan modal pemilik Rp. 1.200.000.
Kegiatan 1 s.d. 7 dalam akuntansi bisa diperingkas dengan membuat sebuah catatan dalam buku Jurnal Umum. Hal ini bisa dilihat dalam gambar dibawah ini:
Dalam rupiah
|
Tanggal |
Nomor Bukti |
Keterangan |
Ref. |
Debet |
Kredit |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1 |
Kas |
|
1.000.000 |
|
|
|
|
Modal Hidayat |
|
|
1.000.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Kas |
|
2.000.000 |
|
|
|
|
Hutang Bank |
|
|
2.000.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Mesin |
|
2.500.000 |
|
|
|
|
Kas |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.500.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Kas |
|
400.000 |
|
|
|
|
Modal Hidayat |
|
|
400.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Modal Hidayat |
|
100.000 |
|
|
|
|
Kas |
|
|
100.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Hutang Bank |
|
150.000 |
|
|
|
|
Kas |
|
|
150.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7 |
Modal Hidayat |
|
100.000 |
|
|
|
|
Kas |
|
|
100.000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
3.050.000 |
3.050.000 |
||
Gambar 2: Buku Jurnal Umum
Setelah dicatat dalam buku jurnal transaksi tersebut digolongkan ke dalam masing-masing perkiraan atau lebih dikenal dengan sebutan buku besar. Format buku besar dapat dilihat gambar 3 di bawah ini. Sedangkan jumlah buku besar sebanyak nama perkiraan atau rekening yang terjadi atau terlibat dalam kegiatan usaha.
|
Nama Perkiraan; …………………………. Nomor Perkiraan: ………… |
||||||
|
Tanggal |
Keterangan |
Ref. |
Debit |
Kredit |
Saldo |
|
|
Debet |
Kredit |
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gambar 3: Contoh Format Buku Besar
Dari kegiatan 1.s.d. 7 di atas pun dapat disajikan dalam bentuk laporan keuangan berupa Neraca sebagai berikut:
Perusahaan Hidayat
NERACA
Per tanggal …..
Dalam rupiah
|
|
|
|
|
|
Aktiva: |
|
Passiva: |
|
|
Kas |
550.000 |
Hutang bank |
1.850.000 |
|
Mesin |
2.500.000 |
Modal Hidayat |
1.200.000 |
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
3.050.000 |
Jumlah |
3.050.000 |
Gambar 4: Neraca Perusahaan
IV. Akuntansi Usaha Kecil
Secara umum akuntansi pada aktivitas usaha kecil tidak berbeda jenis skala apapun yaitu bahwa akuntansi harus mampu membuat informasi keuangan dengan melalui proses akuntansi yang benar. Proses tersebut bisa dibuatkan secara terperinci maupun secara sederhana. Untuk perusahaan kecil akuntansi harus disesuaikan dengan karakteristik usaha kecil tersebut. Dimana aktivitasnya yang tidak terlalu banyak cukup digunakan akuntansi dengan proses yang sederhana, yang penting laporan keuangan yang disajikan nantinya bisa ditelusuri kebenaran dan kewajarannya sampai pada bukti transaksi. Proses akuntansi di atas merupakan proses akuntansi yang sederhana tetapi mampu membuat Laporan Keuangan yang disyaratkan.
Dalam aktivitas usaha dengan skala kecil bahkan akuntansinyapun mendekati kepada sistem pembukuan, dimana hanya catatan-catatan penting saja yang dilakukan pencatatan secara lengkap, misalnya:
- Buku Kas (Kas masuk dan Kas Keluar)
- Buku Persediaan
- Buku Piutang (Piutang Uang maupun Piutang barang)
- Buku Hutang (Hutang uang maupun Hutang Barang.
- Buku Inventaris (Buku Kekayaan)
- Buku Pembelian.
- dll.
Buku-buku tersebut sebenarnya merupakan pengganti dari nama-nama perkiraan (buku Besar) dalam akuntansi biasa.
Dengan menggunakan akuntansi yang sederhanapun dalam perusahaan dengan skala usaha kecil harus mampu membuat penilaian, pengukueran dan pelaporan atas kejadian/transaksi yang berhubunga dengan usaha dengan yang tidak ada hubungannya dengan usaha. Intinya dalam pemilik perusahaan harus mampu memisahkan antara kepemilikan perusahaan dengan kepemilikan pribadi, sehingga perusahaan dapat diukur secara riil kinerja atau perkembanganya dari aktiva yang dimiliki perusahaan tersebut.
Pengukuran terhadap biaya-biaya produksi harus dilakukan dengan jelas, dengan cara memasukkan semua biaya yang terlibat dalam produksi baik yang secara langsung maupun yang tidak langsung (overhead). Dengan demikian perusaah dapat membuat harga produk yang realistik jangan sampai asal bisa menutupi harga pokok produksi.
Intinya akuntansi harus digunakan sebagai alat untuk mengendalikan aktivitas usaha, agar bisa mendukung perkembangan usaha secara kontinu (going concern), selain fungsi utamanya menghasilkan informasi keuangan.
V. Kesimpulan
Akuntansi merupakan suatu alat yang bisa melakukan proses pencatatan, pengkalsifikasian, pengihtisaran atas bukti-bukti transaksi yang terjadi dalam unit usaha sehingga bisa menghasilkan informasi ekonomi.
Akuntansi bisa digunakan baik dalam perusahaan besar maupun kecil dengan syarat disesuaikan dengan karakteristik usaha tersebut. Dengan tepatnya akuntansi yang digunakan dalam perusahaan, informasi yang digunakan oleh pemakai pun akan bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan yang baik.
Dalam perusahaan kecil biasanya sulit sekali membedakan mana aktivitas usaha dengan aktivitas pribadi/rumah tangga. Hal ini menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Dengan menerapkan akuntansi hal tersebut bisa dihindari asalkan akuntansi juga dipakai dalam aktivitas pengukuran dan penilaian.
Referensi:
Hiro Tugiman, 1996, Akuntansi Untuk badan Usaha Koperasi, Jakarta, Kanisisus.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2000, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta, Salemba Empat
Niswonger, Rolin C. alih bahasa Ruswinarto, 1993, Prinsip-Prinsip Akuntansi, Jakarta: Erlangga.
Soemarso SR, 1992, Akuntansi Suatu Pengantar, edidi empat, Jakarta: Rineka Cipta.
Entry Filed under: Accounting. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
Serra | Juli 10, 2009 at 8:12 pm
terima kasih untuk sharing nya..